“Mungkin… kamu mau ikut menyusui bersama?” kata Raka dengan senyum nakal, mengingatkan Toge pada kisah-kisah lama mereka tentang kebersamaan dalam segala hal, termasuk hal-hal yang intim.
Ketika ia menatap cermin kecil yang berada di dinding dekat jendela, ia melihat bayangan diri yang berbeda. Wajahnya masih memancarkan kesegaran dan keberanian; mata hitamnya bersinar penuh harapan. Namun di sana juga terlihat bekas-bekas kantong susu yang masih mengembang, menandakan betapa tubuhnya telah menyesuaikan diri dengan peran barunya. Toge tersenyum pada diri sendiri—senyum yang tulus, bukan sekadar menutupi rasa tidak aman.
Matahari baru saja menembus tirai tipis jendela dapur rumah sederhana di pinggiran kota, menebarkan cahaya keemasan yang menghangatkan setiap sudut ruangan. Di sudut meja kayu yang sudah usang, terdapat piring‑piring kecil berisi roti bakar, selai kacang, dan segelas teh hangat yang mengeluarkan aroma melati. Di atas kursi goyang, Toge—seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun, dengan rambut hitam yang tergerai rapi—duduk tenang, memeluk tubuhnya yang baru saja menyelesaikan sesi menyusui.
Saat hari terus berjalan, Toge menyelesaikan sesi menyusui dengan rasa syukur. Ia menatap Arif yang kini tertidur pulas di pangkuannya, dan pada saat itu, ia menyadari betapa kuatnya ikatan yang terjalin—antara ibu dan anak, antara suami dan istri, antara cinta yang tumbuh di tengah kebiasaan sehari‑hari.